Masa Depan Jakarta
Ketika status ibu kota berpindah ke Nusantara, Jakarta tak lantas surut—justru bersiap menjelma menjadi kota global. Begini peta jalannya.
Babak baru sebuah ibu kota
Sepanjang sejarahnya, Jakarta selalu berubah—dan kini ia berada di ambang perubahan paling besar: melepaskan status sebagai ibu kota negara. Pemerintah memutuskan memindahkan ibu kota ke Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur. Namun, alih-alih membuat Jakarta meredup, perpindahan ini justru membuka peluang baru bagi kota untuk menemukan peran berikutnya sebagai pusat ekonomi nasional dan kota global.
Mengapa ibu kota dipindahkan?
Keputusan memindahkan ibu kota tidak lahir tiba-tiba. Ada beberapa pertimbangan utama:
- Pemerataan pembangunan — selama ini pembangunan terlalu terpusat di Jawa, khususnya Jakarta. IKN diharapkan menciptakan pusat pertumbuhan ekonomi baru di kawasan tengah dan timur Indonesia.
- Mengurangi beban Jakarta — sebagai ibu kota, Jakarta menanggung kepadatan penduduk, kemacetan, banjir, dan penurunan tanah yang makin membebani fungsinya.
- Transformasi ekonomi menuju Visi Indonesia 2045 — IKN dirancang mendukung hilirisasi industri dan penguatan SDM agar Indonesia bisa keluar dari middle income trap.
IKN sendiri dirancang sebagai kota hijau dan cerdas berbasis teknologi, yang diposisikan sebagai superhub—pusat yang menjadi teladan kota berkelanjutan, sekaligus menempatkan Indonesia lebih strategis dalam jalur perdagangan dunia.
Tahukah kamu? Secara hukum, lewat UU No. 2 Tahun 2024, status Jakarta diubah menjadi Provinsi Daerah Khusus Jakarta. Namun karena perpindahan resmi belum ditetapkan lewat Peraturan Presiden, Jakarta hingga kini masih berstatus ibu kota negara—berada dalam masa transisi.
Jakarta yang menatap dunia
Lepas dari status ibu kota, Jakarta menyimpan ambisi besar: bertransformasi menjadi "kota global yang progresif, adil, kompetitif, dan berkelanjutan." Visi ini menempatkan Jakarta sebagai pusat aktivitas bisnis yang inklusif, mendukung kreativitas, namun tetap melestarikan warisan dan tradisi sebagai bagian dari identitasnya.
Targetnya konkret: Jakarta ingin masuk jajaran 20 besar kota global pada tahun 2045. Tolok ukurnya adalah Global Cities Index (GCI) yang dikembangkan oleh Kearney, yang menilai 156 kota berdasarkan kemampuannya menarik dan mengelola arus global berupa modal, manusia, dan ide.
Perjalanan ini tidak mudah. Sejak 2015, peringkat Jakarta dalam GCI justru turun dari posisi ke-54 menjadi ke-74 pada 2024. Penilaian GCI didominasi aspek Aktivitas Bisnis dan Sumber Daya Manusia (masing-masing 30%), disusul Pertukaran Informasi dan Pengalaman Budaya (masing-masing 15%), serta Keterlibatan Politik (10%).
RISE#20: peta jalan menuju kota global
Untuk mengejar target tersebut, Pemprov DKI Jakarta menyusun kerangka strategis bernama RISE#20. Kerangka ini menjadi panduan pembangunan jangka panjang dan mencakup delapan komponen utama:
- Visi dan misi
- Bisnis dan ekonomi
- Masyarakat dan tenaga kerja
- Pariwisata dan city branding
- Lingkungan dan keberlanjutan
- Infrastruktur dan mobilitas
- Penelitian, pengembangan, dan inovasi
- Tata kelola, kelembagaan, dan pembiayaan
Konsep "North Star"—target ideal yang besar—dipakai sebagai bintang penunjuk arah agar pembangunan tetap konsisten.
Bukti-bukti kemajuan
Sebagian fondasi sudah mulai terlihat. Jaringan transportasi publik diperluas, dengan TransJakarta berkembang menjadi Transjabodetabek yang menjangkau Bekasi, Sawangan, hingga Bogor. Berkat upaya ini, Jakarta meraih posisi kedua sebagai kota dengan transportasi umum terbaik di ASEAN versi Time Out (2025). Di sisi lingkungan, pemerintah menambah ruang terbuka hijau dan menggencarkan penanganan banjir, termasuk dukungan terhadap proyek Giant Sea Wall.
Tahukah kamu? Untuk menyeimbangkan ambisi globalnya, Jakarta diingatkan agar tetap menjaga nilai-nilai lokal—belajar dari kota-kota dunia lain yang sukses memadukan modernisasi dengan identitas khasnya.
Peran Abang None di tengah transformasi
Di tengah perubahan besar ini, peran duta budaya seperti Abang None justru makin relevan. Komponen pariwisata dan city branding adalah bagian inti dari RISE#20—dan di sanalah Abang None ikut ambil bagian: menjaga agar wajah Jakarta yang mendunia tetap berakar pada budaya Betawi dan kekayaan tradisinya.
Sumber: Buku Panduan Pemilihan Abang None Jakarta Selatan 2026 (disarikan).
Sumber: Buku Panduan Pemilihan Abang None Jakarta Selatan 2026 (disarikan)
Kunjungi tempatnya
Lihat langsung di peta apa yang baru kamu pelajari.
BudayaMonumen Nasional (Monas)
Tugu setinggi 132 meter, ikon kemerdekaan Indonesia di tengah Jakarta.
HiburanGelora Bung Karno (GBK)
Kompleks olahraga ikonik dengan stadion utama dan jalur joging populer.
BelanjaMall Kota Kasablanka
Mal besar di Tebet/Menteng Dalam dengan pusat kuliner, bioskop, dan ritel lengkap.
Langkah selanjutnya
Uji pemahamanmu
Cara tercepat untuk mengingat: langsung dipraktikkan.