Mengenal Kebudayaan Betawi
Ondel-ondel, gambang kromong, silat Beksi, sampai Si Pitung—kenalan dengan kebudayaan Betawi dan tokoh-tokoh yang membesarkannya.
Budaya hasil peleburan banyak dunia
Kebudayaan Betawi tumbuh dari perjumpaan—warisan masyarakat asli Jakarta yang sejak lama berkembang, terutama di kawasan pinggiran kota. Yang membuatnya istimewa adalah caranya menyerap pengaruh dari banyak budaya: Arab, Tionghoa, India, Belanda, sampai Sunda, semuanya melebur menjadi sesuatu yang khas Betawi. Mari kita telusuri dari ikon-ikonnya.
Delapan ikon budaya Betawi
Pemerintah menetapkan delapan ikon resmi yang menjadi wajah kebudayaan Betawi. Masing-masing menyimpan filosofi tersendiri:
- Ondel-ondel — boneka raksasa dengan wajah merah (laki-laki) dan putih (perempuan), dihiasi kembang kelapa di kepala. Melambangkan kekuatan yang menjaga keamanan dan ketertiban, serta sifat berani, tegas, dan jujur.
- Kembang Kelapa — hiasan dari lidi berbalut kertas warna-warni. Simbol kemakmuran dan keterbukaan masyarakat Betawi yang multikultural.
- Ornamen Gigi Balang — hiasan segitiga (menggambarkan gunung) di pinggir atap rumah Betawi. Melambangkan kegagahan, keseimbangan, kekokohan, dan kewibawaan.
- Baju Sadariah — busana tradisional pria Betawi mirip baju koko, berkerah shanghai. Mencerminkan sosok lelaki Betawi yang rendah hati, sopan, dan religius.
- Kebaya Kerancang — busana perempuan Betawi yang anggun dengan bordir kerancang bermotif kembang. Melambangkan keindahan, kedewasaan, serta kehormatan perempuan.
- Batik Betawi — kain batik dengan motif khas seperti ondel-ondel, Monas, dan bunga-bunga, berwarna cerah dan mencolok. Simbol kekayaan dan keseimbangan alam.
- Kerak Telor — kudapan ikonik dari ketan dan telur. Melambangkan pergaulan yang harmonis dan perubahan lingkungan yang alami.
- Bir Pletok — minuman rempah berwarna merah yang menyehatkan—dan, meski namanya "bir", sama sekali tanpa alkohol. Simbol hidup sehat lahir dan batin.
Tahukah kamu? Jumlah kembang kelapa di kepala ondel-ondel berbeda menurut jenis kelaminnya: 20 batang untuk yang perempuan dan 25 untuk yang laki-laki.
Kesenian: dari tarian sampai bela diri
Kesenian Betawi tumbuh dalam empat cabang besar: tari, seni pertunjukan, musik, dan bela diri.
Tarian
- Tari Cokek — tarian pergaulan ceria sepasang penari, diiringi gambang kromong, dengan ciri khas gerak pinggul penari wanita dan tingkah jenaka penari pria.
- Tari Samrah — dibawakan penari pria dengan gerakan menyerupai silat namun lebih lembut, diiringi orkes gambus.
- Tari Zapin — tarian bernapas keislaman oleh dua penari pria dengan irama padang pasir, kerap tampil di khitanan atau perkawinan.
- Tari Blenggo — sarat unsur silat, hadir dalam dua jenis: Blenggo Ajeng (diiringi gamelan) dan Blenggo Rebana.
Seni pertunjukan
- Topeng — teater tradisional penuh humor yang melukiskan keseharian orang Betawi, dibuka dengan tarian topeng dan kerap mengajak penonton berinteraksi.
- Lenong — teater rakyat dengan improvisasi bebas, terbagi menjadi Lenong Denes (cerita keraton) dan Lenong Preman (kisah jagoan rakyat).
- Wayang Kulit Betawi — unik karena lakonnya disusun langsung oleh sang dalang dari tokoh-tokoh Mahabharata.
Musik
- Gambang Kromong — ansambel yang memadukan alat musik tradisi Tionghoa dan Betawi. Lagu seperti Jali-Jali dan Kemayoran populer dibawakan dengannya.
- Tanjidor — didominasi alat tiup seperti terompet dan klarinet, biasa mengiringi arak-arakan ondel-ondel dan pengantin sunat.
Bela diri (silat)
- Silat Beksi — muncul sekitar pertengahan abad ke-19 sebagai alat perlawanan terhadap kolonial; cirinya kuda-kuda kokoh dan pukulan keras.
- Silat Cingkrik — lahir di Rawa Belong, dikembangkan Kong Maing dari mengamati gerak kera; intinya lincah, gesit, dan lentur.
- Silat Sabeni Tenabang — aliran asli Tanah Abang dari Pendekar Sabeni (1860–1945), mengandalkan permainan jarak dekat dan kecepatan tangan.
Tokoh-tokoh kebanggaan Betawi
Kebudayaan Betawi juga hidup lewat tokoh-tokohnya, dari pejuang hingga seniman legendaris.
Mohammad Husni Thamrin (lahir 1894 di Sawah Besar) adalah pejuang hak rakyat kecil yang menyuarakan kepentingan pribumi sejak 1919. Ia turut memperjuangkan penggantian sebutan inlander menjadi Indonesia. Namanya kini menjadi salah satu jalan protokol utama Jakarta.
Syekh Junaid Al-Batawi dari Pekojan adalah ulama Betawi paling berpengaruh pada abad ke-18 dan ke-19—bahkan menjadi ulama Indonesia pertama yang menjadi imam di Masjidil Haram. Adapun Tutty Alawiyah dikenal sebagai ulama perempuan dan aktivis yang mendirikan Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) pada 1981.
Di bidang seni, ada Ismail Marzuki dari Kwitang, pencipta lagu Indonesia Pusaka, yang namanya diabadikan dalam pusat kesenian Taman Ismail Marzuki. Lalu Benyamin Sueb alias Bang Ben (lahir 1939 di Kemayoran), seniman paling legendaris yang membawa budaya Betawi ke panggung nasional lewat lebih dari 75 album dan 53 judul film.
Dunia legenda pun tak kalah hidup. Si Pitung dari Rawa Belong dikenang sebagai "Robin Hood" Betawi yang membela rakyat kecil. Mirah, Singa Betina dari Marunda, melambangkan keberanian dan kekuatan perempuan Betawi, sementara kisah Nyai Dasima menjadi cerminan nasib perempuan pribumi di bawah bayang kolonial.
Tahukah kamu? Si Pitung bukan sekadar jagoan silat—ia juga murid ilmu agama Islam di bawah bimbingan Haji Naipin, dan keahliannya digunakan untuk membela kaum tertindas di Batavia.
Warisan yang masih hidup
Yang menarik dari kebudayaan Betawi adalah bahwa ia bukan sekadar masa lalu. Ondel-ondel masih hadir di berbagai acara, silat masih diajarkan, dan nama tokoh-tokohnya masih melekat di jalan-jalan kota. Untuk menyaksikannya langsung, kawasan seperti Setu Babakan menjadi salah satu jendela terbaik melihat budaya ini tetap berdenyut.
Sumber: Buku Panduan Pemilihan Abang None Jakarta Selatan 2026 (disarikan).
Sumber: Buku Panduan Pemilihan Abang None Jakarta Selatan 2026 (disarikan)
Kunjungi tempatnya
Lihat langsung di peta apa yang baru kamu pelajari.
BudayaPerkampungan Budaya Betawi Setu Babakan
Pusat pelestarian budaya Betawi dengan danau, ondel-ondel, dan kuliner tradisional.
BudayaKota Tua Jakarta
Kawasan kolonial Batavia dengan Taman Fatahillah dan deretan museum bersejarah.
KreatifTaman Ismail Marzuki
Pusat kesenian Jakarta di Cikini dengan teater, planetarium, dan galeri.
Langkah selanjutnya
Uji pemahamanmu
Cara tercepat untuk mengingat: langsung dipraktikkan.