Sejarah Abang None Jakarta
Bermula dari pencarian jati diri kota di era Ali Sadikin, ajang ini tumbuh dari kontes kecantikan menjadi barisan duta wisata kebanggaan Jakarta.
Berawal dari pencarian jati diri kota
Lahirnya ajang Abang None Jakarta tak bisa dilepaskan dari sebuah pertanyaan besar: siapa, sebenarnya, wajah Jakarta? Gagasan ini pertama kali dicetuskan oleh Usmar Ismail, tokoh perfilman legendaris Indonesia, yang ingin menemukan sosok ikonik sebagai representasi identitas kota. Pada mulanya, ajang ini hanya diperuntukkan bagi perempuan dengan nama Pemilihan None Jakarta.
Inisiatif ini muncul di tengah transformasi besar-besaran Jakarta di bawah kepemimpinan Gubernur Ali Sadikin, yang berambisi mengubah citra Jakarta dari "The Big Village" menjadi kota metropolitan yang modern dan teratur.
Tahukah kamu? Pada tahun 1966, sekitar 78 persen penduduk Jakarta adalah pendatang. Itulah salah satu alasan kota ini merasa perlu memiliki wajah budaya yang kuat dan inklusif bagi warganya yang sangat beragam.
Budaya sejalan dengan pembangunan
Ali Sadikin menyadari satu hal penting: pembangunan fisik berupa gedung-gedung pencakar langit harus berjalan selaras dengan pembangunan fondasi budaya. Keyakinan inilah yang melatari lahirnya Badan Kerjasama Seni dan Budaya (BKS), Dewan Kesenian Jakarta, hingga berdirinya pusat kesenian Taman Ismail Marzuki (TIM) pada tahun 1968.
Pemilihan None Jakarta menjadi bagian dari semangat yang sama—upaya menghadirkan sosok representatif yang bisa menjadi simbol kebanggaan sekaligus jembatan budaya bagi warga kota yang heterogen.
None pertama dan lonjakan peminat
Pemilihan None Jakarta perdana resmi digelar pada 22 Juni 1968, bertepatan dengan HUT Jakarta ke-441. Acara yang berlangsung di Miraca Sky Club, Sarinah, ini menobatkan Riziani Malik sebagai None Jakarta pertama dari total 36 peserta.
Minat masyarakat melonjak cepat. Pada tahun 1969, jumlah pendaftar mencapai 150 orang, dengan Masayu Nilawati Saleh keluar sebagai pemenang. Tahun-tahun awal ini juga melahirkan nama-nama besar yang kemudian dikenal luas publik, seperti Connie Sutedja, Dewi Motik, hingga Poppy Dharsono.
Hadirnya sosok "Abang"
Titik penting berikutnya datang pada tahun 1971, ketika Pemerintah DKI melalui BAPPARDA merasa perlu menghadirkan sosok pendamping pria bagi None Jakarta. Sejak saat itulah kategori "Abang" resmi diperkenalkan, dengan Hamid Alwi terpilih sebagai Abang Jakarta pertama, berdampingan dengan None Tjike Soegiarto.
Dari protokoler menjadi duta wisata
Seiring waktu, peran Abang None terus berkembang. Mereka tak lagi sekadar pendamping protokoler dalam acara resmi gubernur, melainkan telah bertransformasi menjadi Duta Wisata yang aktif mempromosikan pesona dan kekayaan budaya Jakarta—baik di kancah nasional maupun internasional.
Tahukah kamu? Apa yang dulu dirancang sebagai kontes untuk menemukan "wajah Jakarta" kini menjadi barisan duta budaya yang berbicara di depan publik, memandu wisatawan, dan menjadi jembatan antara tradisi Betawi dan dunia modern.
Memahami sejarah ini penting bagi setiap calon Abang None. Sebab gelar yang diperebutkan bukan sekadar mahkota atau selempang, melainkan warisan tanggung jawab: menjaga dan memperkenalkan jati diri Jakarta kepada dunia.
Sumber: Buku Panduan Pemilihan Abang None Jakarta Selatan 2026 (disarikan).
Sumber: Buku Panduan Pemilihan Abang None Jakarta Selatan 2026 (disarikan)
Kunjungi tempatnya
Lihat langsung di peta apa yang baru kamu pelajari.
Langkah selanjutnya
Uji pemahamanmu
Cara tercepat untuk mengingat: langsung dipraktikkan.

